Jumat, 18 Februari 2011

Mengenali Tujuan Hidup

Seorang yang hendak melakukan perjalanan, pertama kali yang dia pikirkan tentunya ialah mengetahui tujuan. “Kemana aku akan pergi?” Ini merupakan pertanyaan yang sangat penting. Tanpa mengetahui tujuan perjalanan, seseorang akan berjalan kebingungan tak menentu arahnya. Seseorang akan mendatangi suatu acara, misalnya, maka pertama harus mengetahui dimana acara itu diselenggarakan, atau dimana alamatnya.
Setelah mengetahui tujuan, seseorang baru bisa mencapainya jika dia menginginkannya. Bila dalam perjalanan terdapat hambatan, seperti kerusakan kendaraan, salah mengambil jalan, atau jalanan macet, bukanlah masalah yang besar. Hanya saja sampai ke tujuannya akan tertunda.
Namun bila tidak memiliki alamat, meskipun kita memaksakan diri hingga titik darah penghabisanpun untuk mencapainya,pastinya akan mengalami beberapa kerugian, berjalan tak tentu arah,menghabiskan tenaga,membuang waktu, dan yang paling rugi ialah apabila kita gagal dan mengulangi hal tersebut dari awal.
Apabila hal tersebut sudah tentu arahnya dan pasti tujuannya maka bukan masalah bila kita gagal disana karena setelah kita gagal kita masih bisa mendapat pelajaran untuk menjadi yang lebih baik sekali lagi. Namun bila ternyata tujuan tersebut semu,tidak jelas,tidak bermanfaat,serta ternyata tujuan tersebut malah membuat kita mengalami kerugia besar. Lantas bagaimana bila kerugian tersebut tidak hanya menimpa kita namun juga orang-orang di sekitar kita.
Begitu pula ketika menempuh perjalanan hidup, ada tujuan yang harus kita capai. Jika tidak maka kita hanya akan menjadi mayat-mayat hidup yang diperalat oleh kehidupan yang tak memiliki baik hati dan pikiran.
Apa yang membedakan….?

HANYA SATU…


Maka dari itu dengan hati dan pikiran itulah hendaknya kita pasti mampu untuk memiliki suatu tujuan dan harus mampu mengklasifikasi manakah tujuan yang baik dan juga tujuan yang salah.Oleh karenanya langkah pertama untuk membangkitkan kesadaran diri adalah “mengenali tujuan hidup”. Apakah tujuan kita hidup? Untuk apa kita “hidup” di dunia ini? Mengapa kita “ada” di alam ini? Mari kita bertanya pada diri sendiri sekarang.
Anak-anak SMA dalam suatu pertemuan pernah ditanya tentang tujuan mereka sekolah.Serta apa yang akan dicapai dan kemana tujuan mereka  setelah sekolah mereka tamat.Sebagian dan mereka mengerutkan dahi kebingungan mendapat pertanyaan itu.Karena selama ini mereka sekolah hanya menggunakan jasadnya saja. Mereka berjalan ke sekolah, lalu duduk mendengarkan penjelasan guru atau rnengerjakan berbagai tugas, kernudian pulang tanpa memiliki cira-cita yang pasti. Mereka sekolah hanya karena semua orang bersekolah. Mereka sekolah karena memang hidup ini memiliki perputaran, dan putaran sekolah telah sampai kepada mereka.
Anehnya sepertinya pertanyaan itu lebih pantas ditujukan kepada anak SD,.Ketika anak-anak SD ditanya maka mereka dengan mudah mejawab.Mereka memberikan jawaban bermacam-macam di antaranya, agar mendapar nilai bagus, agar menjadi juara kelas, agar orang tua bangga terhadapnya, agar rnenjadi orang pandai, agar menjadi orang yang dihormati karena berilmu, agar mudah mendaparkan kekayaan, agar rnenguasai ilmu pengetahuan, bercira-cita rnenjadi dokter, dan lain-lain.
Sebelum rncmbahas lebih lanjut, perlu disepakati terlebih dahulu bahwa ada kehidupan setelah kematian. Hampir setiap hari kita menyaksikan kematian. Kematian karena lanjut usia, penyakit, bencana alam, kecelakaan dan terkadang tanpa sebab. Kemanakah setelah mati? Apakah habis? Selesaikah keberadaan mereka?
Mereka hanya berpindah alam dan akan mendapat balasan atas perbuatan mereka. Seseorang yang beramal baik ketika di dunia akan mendapat balasan yang baik. Dan yang beramal jelek akan mendapat balasan yang jelek. Allah Swr. berfirrnan,
Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. al.Baqarah [2]: 201)

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. al-Zalzalah [99J: 7 —8)
Mari kita kembali kepada pembahasan tujuan hidup. Begitu banyak tujuan hidup di dunia ini. Setiap manusia memiliki tujuan yang berbeda-beda sesuai dengan yang melekat di hati mereka. Namun beragamnya tujuan manusia, sesungguhnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu tujuan duniawi (dunia) dan tujuan ukhrawi (akhirat).
Tujuan Duniawi
Tujuan duniawi adalah segala perbuatan yang ditujukan untuk kepentingan dunia. Allah Swt. Berfirnan,


“Barangsiapa berkeinginan (tujuan) kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami ecntukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS, al Isra [17]: 18)
Dari firman Yang Maha benar ini, kita akan segera mengetuhui hanyak hal. Allah Swt. menjelaskan tentang sambutanNya untuk orang-orang yang memiliki keinginan duniawi seperti disebutkan dalam ayat “Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki.”  Allah akan langsung mengabulkan keinginan orang tersebut. Mengapa demikian? Jika kita memiliki sebuah benda berharga, mutiara misalnya, mungkinkah kita berikan kepada seseorang yang memintanya secara cuma-cuma? Tentu saja tidak. Lain halnya jika yang diminta segenggam rumput liar. Kita akan memberikannya bahkan tanpa perlu berpikir dua kali. Mengapa demikian? Karena mutiara adalah benda berharga dan rumput liar adalah benda yang menurut kita tidak berharga dan sangat mudah di dapat.
Ini menjelaskan mengapa Allah segera mengabulkan orang yang bertujuan dan berkeinginan duniawi dengan memberikan dunia kepada mereka. Karena dunia adalah sesuatu yang tak berharga di sisi Allah. Dunia adalah sesuatu yang rendah dan hina bagi Allah. Manusia yang mengenal Allah tidak akan memuliakan sesuatu yang dihinakan oleh-Nya. Manusia yang memuliakan sesuatu yang dihinakan-Nya, maka dia pun akan menjadi hina dihadapan-Nya.
          Dunia dalam bahasa arab disebut dengan
dunya. Dunya memiliki akar kata yang sama dengan daniy yang berarti rendah atau hina. Dunya juga memiliki akar kata yang sama dengan dana  yadnü, yang berarti dekat atau segera. Karena itulah dalam ayat di atas digunakan kata al-’ajilah untuk menyebut dunia, yaltu sesuatu yang segera. Maksudnya jika seseorang menginginkannya maka keinginannya akan segera terwujud. Biasanya orang yang menginginkan makanan hanya perlu membuatnya kemudian dapat menikmatinya dalam waktu dekat. Orang yang ingin tidur hanya perlu memejamkan matanya sambil berbaring dan dia pun akan tertidur. Begitu pula kenikmatannya akan segera berakhir dalam waktu dekat dan singkat.

          Karena itulah dunia merupakan sesuatu yang rendah, hina dan tiada artinya. Sehingga orang menginginkannya akan mendapatkannya segera dari Allah. Nabi Muhammad Saw. menyatakan dalam sabdanya yang mulia, “Andai kata dunia sebanding nilainya di sisi Allah dengan seekor sayap nyamuk, maka tak seorang kafir pun bisa mendapatkannya walaupun setetes air darinya” (HR Turmudzi) Namun karena dunia tak ada artinya di sisi Allah maka orang kafir pun juga mendapatkannya, bahkan sebagian ada yang mendapatkannya berlebih-lebih. Jadi sedikit atau banyaknya nikmat duniawi tidak berkaitan dengan jauh atau dekatnya seseorang dari Allah.
Tetapi jangan lupa, bahwa tidak semua orang yang memiliki tujuan dunia pasti diberi oleh Allah. Mereka tidak diberi oleh Allah bukan karena dunia itu berharga, tetapi memang Allah menghendaki demikian. Karena itu ayat di atas menyatakan “bagi orang yang kami kehendaki”. Ada orang bertujuan duniawi yang tujuannya dikabulkan Allah, terapi ada pula yang tidak, walaupun keduanya memiliki kedudukan sama di sisi Allah. Perumpamaan mereka seperti nelayan yang rnencari ikan, sebagian mendapatkan dan sebagian tidak. Mereka hanya berbeda pada tercapainya tujuan. Sedangkan tujuan mereka sama, yaitu sama-sama nelayan yang mencari ikan.
Begitulah Allah, Dia hanya memandang hati, bukan atribut yang menempel pada diri seseorang. Rasulullah Saw. bersabda, “Seungguhnya, Allah tidak memandang rupa dan tubuh kamu tetapi Dia hanya memandang hati sanubari kamu.” (HR muslim)
Tujuan  Ukhrawi
Tujuan ukhrawi adalah segala perbuatan yang ditujukan untuk kepentingan akhirat. Akhirat dalarn hahasa arab disebut âkhirah yang berarti dia , nanti, atau kelak. Allah Swt. berfirrnan,

“Dan barangsiapa yang berkeinginan (tujuan) kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh. sedang ia adalahi mukmin, rnaka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. Kepada masing - masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain,). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS, al-Isra [17]: 19—21)
Ayat-ayat di atas memaparkan tentang orang-orang yang bertujuan akhirat dengan “Dan barangsiapa yang berkeinginan (tujuan) kehidupan akhirat”. Ketika menyebutkan orang yang bertujuan duniawi Allah segera menyatakan “Kami Segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki”. Tetapi bagi orang-orang yang bertujuan akhirat Allah mernberikan syarat kepada mereka terlebih dahulu. Mengapa? Sebagaimana telah disebutkan pada contoh di atas tentang betapa berharganya sebuah mutiara dan kemustahilan orang mendapatkannya kecuali dengan memberikan pengorbanan yang sepadan. Maka seharusnya kita rnengetahui bahwa kadar akhirat sangatlah mahal di sisi Allah, hingga Dia rnemberikan syarat bagi yang menginginkannya.
Dalam ayat di atas telah disebutkan syarat-syaratnya yang akan kita bahas berikut,
-     Berusaha ke arah  itu dengan sungguh-sungguh.
Maksudnya keinginannya sesuai dengan usahanya. Semisal orang yang ingin kaya, tetapi hanya bermalas-malasan, maka tidak akan pernah tercapai keinginannya walaupun hidup seribu tahun. Orang yang ingin mendapatkan kekayaan haruslah berkorban untuk meraih cita-citanya. Mungkin harus mengorbankan waktu, pikiran, dan  tenaganya untuk mencapai keinginannya. Semakin tinggi cita-cita seseorang, semakin besar pula pengorbanan yang harus dilakukan. Pengorbanan seseorang untuk rnendapatkan uang satu juta, tentu lebih kecil jika dibandingkan dengan pengorbanan untuk rnendapatkan satu milyar.
Kalaupun seseorang bercita-cita ingin menjadi seorang ulama maka tentunya apun segala perbuatan dan tingkah lakunya harus berkiblat pada apa saja tingkah laku ulama.
Dan harusnya makin hari pun makin mendekati penerapan dirinya menuju cita-cita sebagai ulama tersebut. Bukan malah mundur namun makin hari bertambah makin ia semakin baik. Walaupun hanya brtambah satu persen namun bila peningkatan itu terus ada dan terus menerus ia jalani insyaallah tidak akan sampai separuh hidupnya ia pasti akan mencapai apa yang ia cita-citakan.
Begitu pula akhirat yang tidak dapat dibandingkan nilainya dengan kekayaan. Bahkan besarannya tak dapat dinilai karena akhirat adalah sesuatu yang dinilai mahal oleh Yang Mahakaya.
Karena itu mustahil jika seseorang bercita-cita, mendapatkan kehidupan akhirat, tetapi berdiam tak beramal sesuai dengan keinginannya. Atau yang lebih parah lagi, justru berbuat maksiat yang semakin menjauhkannya dari cita—citanya.
-     Sedang dia adalah mukmin
Suatu sekolah atau atau madrasah, sebut saja sekolah Tarbiyah, akan meluluskan murid-rnuridnya yang merniliki kernampuan untuk lulus. Jika ada seseorang yang memiliki kemampuan setingkat  murid-murid sekolah Tarbiyah namun bukan murid sekolah itu maka sama sekali tidak berhak diluluskan oleh sekolah itu.
   
Suatu perusahaan menentukan syarat sarjana bagi karyawan untuk pekerjaan tertentu. Ketika ada orang yang bukan sarjana, walaupun memiliki kemampuan seperti sarjana, tidak akan diterima karena tidak memenuhi persyaratan. Allah memberikan syarat mutlak untuk mencapai cita-cita akhirat. Yaitu sebagai seorang mukmin, seperti yang disebutkan dalam ayat. Jika ada seseorang melakukan amal seperti amal orang beriman, tetapi dia tidak beriman, maka amalnya tidak akan mengantarkannya kepada cita-citanya untuk mencapai akhirat. Yang dimaksud dengan beriman adalah beriman kepada syariat Allah yang disampaikan melalui lisan Nabi Muhammad Saw.
    Melalui ayat di atas kita telah mengetahui perbedaan tujuan duniawi dan tujuan ukhrawi. Allah juga menjelaskan puncak yang akan dicapai oleh dua tujuan itu. Bagi mereka yang bertujuan duniawi maka puncak yang akan dicapai adalah Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Sedangkan bagi mereka yang bertujuan ukhrawi puncak yang akan dicapai adalah itu adalah oang-orang yang usahanya dibalas dengan baik .Lalu apakah sebenarnya pengertian dari tujuan duniawi dan ukhrawi?
Niat
Para ulama mendefenisikan dunia dengan “segala sesuatu selain Allah”. Segala amal atau perbuatan yang ditujukan untuk selain Allah maka iru adalah dunia. Sedangkan akhirat adalah scgala amal yang ditujukan unruk Allah. Terrnasuk di dalamnya keclekatan dengan-Nya, mencapai kebahagiaan di surga, dan dijauhkan dan api neraka. Jadi rujuan tidak terletak pada perbuaran. Tetapi rujuan terletak pada fiat yang rersimpan di dalam hati. Jika anda melihat seseorang sedang melakukan shalat sambil memejamkan matanya, lalu tiba-tiba dia menitikkan air mata dan menangis terisak-isak, bagaimana menurut anda tujuan orang ini, duniawi arau ukhrawikah? Atau jika anda melihat orang yang mengerenyirkan dahinya berpikir tentang caranya mendapatkan keuntungan dalam pekerjaannya, duniawi atau ukhrawikah tujuannya?
Jawabnya tergantung pada tujuan yang berada di dalam hatinya. Jika pelaku shalat yang menitikkan air mata bertujuan mengharapkan ridha Allah, surga-Nya, serta kedekatan dengan-Nya, maka dia sedang menuju akhirat dengan shalatnya. Tetapi jika dia mengharap pujian orang, agar disebut sebagai ahli ibadah atau yang lain, maka dia sedang menuju dunia dengan shalatnya. Begitu pula orang yang berusaha mendapatkan laba dan pekerjaannya. Jika dia bekerja dengan tujuan memenuhi tanggungjawabnya sebagai suami, misalnya. Atau dia memenuhi perintah Allah untuk berikhtiar di muka bumi-Nya, maka dia sedang menuju akhirat dengan pekerjaannya. Tetapi kerika dia bertujuan sernata-mata hendak mengeruk kekayaan demi mcmuaskan syahwatnya, maka dia sedang menuju dunia melalui pekerjaannya.
Karena itu tujuan dan perbuatan adalah hal yang sangat penting bagi setiap orang agar jelas apa yang hendak dicapai dalam hidupnya. Tentu saja orang yang hendak membangkitkan kesadaran dirinya, langkah pertama adalah menghadirkan tujuan ukhráwi di dalam hatinya pada setiap perbuatannya.
Nabi Muhammad Saw. sesampainya di kota Madinah, ketika hijrah, bersabda di hadapan para sahabatnya, “Sesungguh nya amal dengan tujuan dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan tujuannya. Jika seseorang berhijrah mengharapkan balasan dari Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan balasan dari Allah dan Rasul-Nya. Jika dia berhijrah ingin mendapatkan kekayaan duniawi atau wanita yang akan dia nikahi, maka dia hanya mendapatkan dan hijrahnya apa yang dia inginkan (tidak mendaparkan apa-apa dari ALlah dan Rasul-Nya).” (HR Bukhari dan Muslim) Para ulama mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda demikian, karena ada seorang sahabat yang berhijrah bersama yang lain, namun bertujuan untuk menikahi wanita dan mendapatkan kekayaan di Madinah.
Dalam hal ini Imam Syafi’I berpendapat bahwa sabda Rasul Saw. di atas tidak hanya terbatas pada ibadah hijrah saja. Tetapi merupakan pondasi seluruh ibadah. Jika seseorang heribadah mengharapkan balasan dari Allah dan Rasul-Nya maka dia mendapatkan balasan dari Allah dan Rasul-Nya. Jika mengharapkan pujian makhluk, pangkat, uang, ketenaran, dan kelebihan duniawi, maka dia hanya akan mendapatkan harapannya itu jika Allah menghendaki. Dan dia tidak akan mcndapatkan apa-apa dari-Nya Swt.
Disamping semua hal di atas, meluruskan tujuan dapat membedakan perbuatan yang satu dengan perbuatan yang lain walaupun yang dilakukan sama. Meluruskan tujuan juga dapat mengangkat kedudukan amal atau menurunkannya. Jika anda melihat dua orang memberi uang kepada pengemis. Tampaknya dua orang itu melakukan penbuatan yang sama.
Yang satu karena iba melihat pengemis ini. Sedang yang lain karena sedang berkampanye untuk mendapatkan kedudukan. Agar dia melihat sebagai orang yang memiliki empati kapada lingkungan sehingga terpilih menjadi pejabat. Maka hakikat perbuatan itu berbeda yang satu dengan yang lain. Perbuatan yang dilandasi iba terhadap makhluk Allah akan meningkatkan kwalitas amal. Sedangkan perbuatan yang dilakukan semata-mata mengkampanyekan dirinya agar terpilih sebagai pejabat menurunkan kwalitas amalnya.
Bahkan meluruskan tujuan dapat meningkatkan kwalitas perbuatan yang biasa menjadi berarti atau berbobot bagi spirirualnya. Ketika seseorang makan, maka dia sedang melakukan perbuatan yang biasa-biasa saja, tidak ada kelebihan apa-apa pada perbuatannya. Karena makan juga dilakukan oleh orang yang jauh dari Allah, dan bahkan dilakukan oleh hewan. Tetapi ketika seseorang makan dengan disertai tujuan yang mulia seperti untuk menyehatkan badan demi menjalankan amal baik  maka perbuatan makan itu meningkat kwalitasnya menjadi amal baik yang dapat meningkatkan spiritualitasnya, bukan merupakan perbuatan biasa lagi.
Begitulah, langkah pertama yang harus kita jalani, yaitu menghadirkan tujuan-tujuan baik dalam setiap pcrbuatan yang akan kita lakukan setiap harinya dengan berniat mendekat kepada Allah. 

by : Unggul Libels 

Kamis, 17 Februari 2011

Dream

Impian merupakan awal dari kesuksesan seseorang. Tanpa impian seseorang tidak akan bisa sukses. Hal ini saya dapatkan ketika saya membaca novel karangan Andrea hinata yang berjudul 'sang pemimpi'. Setelah membaca novel ini saya sangat termotivasi untuk terus bermimpi dan mewujudkanya.
Sekarang tinggal bagaimana cara mewujudkanya ?
Tentu saja dengan selalu berdoa dan terus berusaha. Dengan modal manjad'a wajad'a kita pasti bisa kita pasti bisa mewujudkan impian kita walaupun itu sangat tinggi .

Teruslah bermimpi dan gapai mimpimu setinggi munkin

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Anak Libels | Bloggerized by Harris Naufal Powered by Blogger